Moderasi Untuk Lingkungan:”Beragama Melawan Krisis Iklim”
Oleh: M. Saiful Hadi, SH. M.Sy (Kepala KUA Kaliwates)
KUAkaliwates.com- Krisis iklim bukan lagi isapan jempol. Perubahan cuaca ekstrem, mencairnya es kutub, banjir bandang, kebakaran hutan, dan polusi udara kini menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan kehidupan. Di tengah kegentingan ini, agama tidak bisa hanya diam. Agama, khususnya Islam, mengajarkan bahwa bumi adalah amanah dari Allah, dan manusia ditunjuk sebagai khalifah untuk menjaganya, bukan menghancurkannya.
Dalam konteks ini, moderasi beragama menjadi jalan tengah yang sangat relevan. Moderasi bukan berarti lunak, tetapi bijak; tidak ekstrem, tidak abai. Dalam menghadapi krisis iklim, umat beragama perlu bersikap moderat: membatasi konsumsi, mengurangi sampah, menjaga keseimbangan, dan menyadari bahwa setiap tindakan terhadap alam adalah bagian dari ibadah.
Islam dan Mandat Menjaga Lingkungan
Islam sejak awal telah menanamkan prinsip bahwa segala sesuatu diciptakan dalam keseimbangan (mīzān). Alam bukan hanya latar, tapi bagian dari sistem ilahi yang harus dijaga dan dihormati.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya…”(QS. Al-A’raf: 56)
Ayat ini menegaskan bahwa merusak alam adalah tindakan melawan kehendak Tuhan. Dalam konteks kekinian, ini bisa diterjemahkan sebagai pelarangan pembakaran hutan secara serampangan, penebangan liar, eksploitasi tambang tanpa rehabilitasi, dan pembuangan limbah sembarangan.
Bahkan, Allah menegaskan lagi dalam ayat lain:
> ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”(QS. Ar-Rum: 41)
Artinya, kerusakan yang terjadi saat ini bukan kehendak alam semata, melainkan ulah manusia sendiri. Islam tidak memisahkan antara hubungan vertikal dengan Tuhan (hablum minallah) dan hubungan horizontal dengan alam (hablum minal ‘alam). Semua terikat dalam satu ekosistem keimanan.
Rasulullah: Teladan Moderasi Ekologis
Nabi Muhammad ﷺ adalah sosok teladan dalam menjaga alam. Dalam kehidupan sehari-harinya, beliau sangat hemat air, bahkan ketika berwudhu. Beliau tidak pernah mengambil hasil bumi secara berlebihan dan selalu memperlakukan hewan dengan kasih sayang.
Hadis ini sangat kuat maknanya. Hijau dan manis adalah simbol kelimpahan dan keindahan, tetapi juga tanggung jawab. Manusia diberi kuasa, tapi bukan untuk semena-mena. Kita ditugasi untuk mengelola, bukan menguasai tanpa batas.
Moderasi Beragama: Jalan Tengah Melawan Krisis
Moderasi beragama bukan hanya untuk menangkal radikalisme atau intoleransi, tetapi juga menjadi paradigma menyeluruh dalam kehidupan beragama, termasuk terhadap isu lingkungan.
Rosulullah besabda:
> إِذَا قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا، فَلْيَفْعَلْ
“Jika kiamat terjadi dan di tangan salah seorang dari kalian ada bibit pohon, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat datang, maka tanamlah!”
(HR. Ahmad)
Ayat ini memperingatkan agar manusia tidak gegabah dalam mengeksploitasi sumber daya alam yang justru bisa membawa bencana ekologis. Moderasi dalam bertindak—tidak boros, tidak serakah—merupakan bentuk ibadah dan manifestasi dari nilai tawazun (keseimbangan) yang dijunjung tinggi dalam ajaran Islam.
Moderasi juga mengajarkan bahwa tindakan kecil yang konsisten bisa menjadi ibadah besar jika diniatkan karena Allah dan demi kebaikan bersama.
Menjaga kebersihan lingkungan, menghemat air, menanam pohon, atau mengelola sampah dengan benar, merupakan bentuk amal saleh yang relevan dengan zaman. Seorang Muslim yang moderat seharusnya tidak diam melihat polusi, pembabatan hutan, atau perubahan iklim yang mengancam kehidupan banyak makhluk. Justru, ia tergerak untuk bertindak, karena alam ini adalah amanah yang harus dijaga, bukan diwarisi dalam kerusakan.
Dengan demikian, moderasi beragama mengajak kita untuk hidup selaras dengan alam, tidak merusaknya atas nama pembangunan atau kebebasan. Semangat ini selaras dengan misi kenabian yang membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Maka, saat krisis iklim menjadi tantangan global, umat beragama memiliki peran penting untuk menyuarakan perubahan. Mulai dari masjid, madrasah, hingga forum dakwah—isu lingkungan harus diangkat sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual kita. Sebab mencintai bumi bukan sekadar aktivisme, tetapi bagian dari keimanan.
Bayangkan, bahkan di ambang kiamat pun, Nabi masih mendorong kita untuk menjaga dan menanam kehidupan. Ini bukan sekadar simbolik, melainkan pesan kuat tentang harapan, tanggung jawab, dan peran manusia sebagai penjaga bumi.
Bergama untuk Masa Depan
Sebagai umat Islam, kita perlu menyadari bahwa iman yang sejati akan terlihat dari sikap kita terhadap lingkungan. Tidak cukup hanya berdzikir di masjid, tetapi juga mengurangi jejak karbon kita. Tidak hanya berdoa untuk keberkahan alam, tapi juga aktif melindunginya dari kerusakan.
Moderasi beragama mengajarkan keseimbangan: antara dunia dan akhirat, antara spiritualitas dan tanggung jawab sosial. Dalam menghadapi krisis iklim, ajaran Islam bisa menjadi kekuatan moral untuk mengubah arah—dari eksploitatif menuju regeneratif, dari destruktif menuju solutif.
Mari kita perkuat spiritualitas ekologis. Karena mencintai alam bukan sekadar tren, tapi tuntunan agama. Dan bumi bukan hanya tempat tinggal kita hari ini, tetapi warisan untuk anak cucu esok hari.
