“Tuhan Esa”, Dasar Bangun Kesadaran Eco-Theology

Oleh: Mashur Imam,M.E *

KUAKALIWATES.COM-Indonesia adalah rumah besar yang penuh warna. Di dalamnya ada ribuan bahasa, adat, dan keyakinan. Tapi di tengah heterogenitas itu, ada satu simpul yang mempersatukan. Sila pertama Pancasila, “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Fondasi moral yang dapat dikembangkan sebagai pola keyakinan moral masyarakatnya.

Sejak republik berdiri, tafsir atas sila pertama punya historis panjang. Pada periode 1945–1965, tafsir dominannya adalah “pengakuan adanya Tuhan.” Sederhana, universal, dan tidak mengikat orang pada agama tertentu. Negara tidak menunjuk agama resmi, sekolah tidak wajib mengajarkan agama tertentu, dan iman dianggap urusan pribadi. Negara cukup mengakui bahwa manusia Indonesia percaya pada sesuatu yang transenden. Itu saja.

Namun, seiring waktu, tafsir ini bergeser. Di masa Orde Baru, negara ikut campur dalam kehidupan beragama. Muncul daftar agama resmi, kurikulum wajib, dan birokratisasi iman. Agama tidak lagi sekadar ranah privat, tetapi masuk ke ranah publik yang diatur negara. Meski begitu, satu hal tidak berubah: sila pertama tetap berdiri tegak sebagai jangkar.

Kenapa sila ini bisa bertahan? Salah satu jawabannya, karena menjadi titik temu kesadaran bersama. semua umat beragama di Indonesia hidup di tanah yang sama, menghirup udara yang sama, dan menggantungkan hidup pada bumi yang sama. Air, tanah, dan udara tidak mengenal label agama. Maka, keesaan Tuhan bukan hanya soal iman, tapi juga soal etika hidup bersama di tanah air.

Tuhan dalam Ragam Wajah

Setiap agama punya narasi penciptaan, dan semuanya mengandung pengakuan akan yang ilahi. Mari kita lihat satu per satu bagaimana wajah-wajah itu, yang meski berbeda, bertemu dalam satu titik, “Tuhan yang Esa”.

Islam menyebut Allah sebagai Al-Khalik, Sang Pencipta. Alam semesta lahir dari ketiadaan lewat kuasa kun fayakun—“Jadilah, maka jadilah ia.” Narasi ini menegaskan bahwa alam tidak sia-sia, tetapi punya tujuan. Karena itu, manusia ditempatkan ganda: sebagai khalifah (pengelola bumi) dan abdullah (hamba Tuhan). Dua peran ini mengajarkan bahwa menjaga bumi adalah bagian dari ibadah.

Dalam Kristen, baik Katolik maupun Protestan, penciptaan semesta dipahami sebagai karya kasih Allah Tritunggal. Kitab Kejadian menceritakan enam hari penciptaan, dengan manusia diciptakan pada hari keenam, menurut gambar Allah. Dari sana lahir mandat: manusia berkuasa atas bumi, tapi kuasa itu bukan untuk merusak, melainkan untuk merawat. Kekuasaan di sini berarti tanggung jawab.

Hindu sering disalahpahami sebagai politeistik. Padahal inti ajarannya adalah keesaan, yakni Ekam Evam Adwityam Brahma, “Tuhan hanya satu, tiada yang kedua.” Trimurti (Brahma, Wisnu, Siwa) dipahami sebagai manifestasi dari satu Tuhan. Alam semesta lahir dari kekosongan, dengan lima unsur dasar, Panca Mahabhuta—air, tanah, api, udara, dan ruang. Semua makhluk, termasuk manusia, pada akhirnya bergerak menuju moksa, pelepasan diri untuk kembali pada Sang Hyang Widhi.

Dalam Konghucu, Tian dipahami sebagai Khalik Pencipta, sumber kebajikan dan pengatur semesta. Kitab Yijing menggambarkan penciptaan sebagai transformasi dari Wu Ji (ketiadaan) menjadi Tai Ji (wujud), melalui tarian Yin dan Yang. Dari harmoni keduanya lahir segala sesuatu. Maka, tugas manusia adalah hidup selaras dengan Tian Dao, jalan suci Tian.

Buddha agak berbeda. Tidak ada Tuhan personal yang mencipta semesta. Yang ada adalah Nibbana, yakni realitas mutlak, tak diciptakan, tak berawal, tak berakhir. Alam semesta dipandang sebagai samsara, siklus abadi kelahiran dan kehancuran. Namun Buddhisme tetap menekankan etika ekologis. Prinsip ahimsa (tidak melukai) dan Majjhima Patipada (jalan tengah) mencegah manusia dari keserakahan yang merusak.

Begitu juga, kepercayaan lokal. Dari Marapu di Sumba sampai Kaharingan di Kalimantan, ada pengakuan terhadap kekuatan ilahi yang tunggal, walau diekspresikan dalam simbol roh leluhur, penjaga hutan, atau dewa alam. Prinsipnya sama: ada kuasa ilahi yang harus dihormati, dan manusia wajib menjaga keseimbangan dengan alam.

Jika kita kumpulkan semua, meski wajahnya beragam, semuanya mengajarkan bahwa semesta bukan hasil kebetulan. Ia adalah karya yang suci, lahir dari kuasa ilahi, dan manusia diberi peran sebagai penjaga, bukan perusak.

Titik Solidaritas Eco-Theology

Pertanyaannya sekarang, apa peran titik narasi “Tuhan Esa” bagi kita hari ini? Jawabannya jelas, kesadaran bahwa Tuhan menciptakan semesta melahirkan konsekuensi etis. Kita tidak boleh merusak bumi, karena bumi bukan milik kita.

Filsuf Islam kontemporer, Seyyed Hossein Nasr, bilang bahwa krisis ekologi modern muncul karena manusia kehilangan kesadaran sakral terhadap alam. Alam direduksi jadi objek eksploitasi. Padahal, dalam tradisi Islam, alam adalah ayat Tuhan. Kalau ayat Quran kita jaga, kenapa ayat berupa hutan, sungai, dan langit kita hancurkan?

Dalam tradisi Kristen, teolog ekofeminis seperti Rosemary Radford Ruether menekankan bahwa penciptaan menuntut relasi timbal balik. Manusia bukan penguasa mutlak, melainkan bagian dari komunitas ekologis. Leonardo Boff, teolog pembebasan Amerika Latin, menyebut bumi sebagai “rumah bersama,” sebuah gagasan yang diteruskan Paus Fransiskus dalam Laudato Si’. Pesannya: merawat bumi adalah bagian dari doa.

Hindu dan Buddha punya dasar yang sama kuat. Prinsip ahimsa melarang segala bentuk kekerasan, termasuk terhadap alam. Membakar hutan, membuang limbah ke sungai, atau menebang pohon sembarangan sama saja dengan melukai makhluk lain. Sementara Majjhima Patipada, jalan tengah, mengajarkan manusia untuk tidak serakah, tidak berlebihan.

Dari titik ini, sila pertama Pancasila bisa dibaca dalam kerangka kayakinan bermoral kebangsaan yang baik. Tidak hanya menjadi dasar politik, tetapi dasar etika ekologis lintas iman bersama untuk mencintai tanah air. “Ketuhanan Yang Maha Esa” berarti mengakui semesta sebagai ciptaan suci, dan tugas manusia adalah merawatnya. Krisis iklim bukan hanya masalah teknis, tetapi krisis spiritual: manusia lupa bahwa alam adalah cermin Tuhan.

Franz Magnis-Suseno menyebut Pancasila sebagai jembatan moral. Nurcholish Madjid mengingatkan bahwa tauhid bukan soal pengesaan Allah saja, tapi juga kesadaran moral. Menyekutukan Tuhan dengan keserakahan. Kalau kita serakah, merusak alam, itu sama saja dengan menyembah nafsu, bukan Tuhan.

Pengakuan bahwa Tuhan kita Esa, pencipta alam semesta, menuntut tanggung jawab kolektif. Tidak ada agama yang mengajarkan benci pada bumi. Semua menekankan cinta, hormat, dan syukur. Indonesia dengan keragaman imannya justru punya modal besar untuk jadi teladan dunia. Bayangkan jika masjid, gereja, pura, vihara, dan klenteng menjadi pusat gerakan ekologis. Tempat ibadah manjadi ruang doa sekaligus tempat merawat bumi. Di situlah sila pertama lebih konkret dan bisa diamalkan bersama.

Pada akhirnya, kesadaran bahwa Tuhan kita Esa, pencipta langit dan bumi, bukanlah teori belaka. Ia adalah panggilan iman, panggilan kemanusiaan, dan panggilan kebangsaan.

Kalau setiap agama di Indonesia bisa berbeda tapi sepakat pada titik ini, kita punya harapan besar menghadapi zaman yang rapuh. Krisis iklim, banjir, polusi, kekeringan—semua bisa kita hadapi bersama, bukan hanya dengan teknologi, tapi dengan iman yang hidup. Sebab menjaga bumi, pada dasarnya, adalah menjaga iman.

Bangsa Indonesia, dengan Pancasila, bisa menjadi negara dengan heterogenitas keyakinan, namun satu arah dalam merawat buminya. Keberagaman agama, menjadi orkestra indah. Tiap agama memainkan nada berbeda, tapi semuanya harmoni dalam menjawab krisis lingkungan.

  • Penulis adalah Penyuluh KUA Kaliwates Kemenag Jember dan Pengurus Lakpesdam PCNU Jember

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *