Di Lailatul Ijtima’ MWC NU, Penyuluh KUA Kaliwates: “Takut Cara Ikhlas Paling Rendah”
KUAKALIWATES.COM – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kaliwates kembali menggelar rutinan Lailatul Ijtima’ yang dihadiri oleh para pengurus dan ketua Ranting NU se-Kecamatan Kaliwates. Kali ini, pertemuan tersebut menghadirkan penyuluh agama Islam dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kaliwates, KH. Sayyid Abdur Rohman S. Pd. I.
Dalam kesempatan ini, Gus Abdur Rohman menyampaikan materi penting mengenai niat dan tingkatan ikhlas menurut Syarah Kitab Arba’in Nawawi. Beliau menekankan bahwa setiap amal perbuatan harus diawali dengan niat yang benar, sebagaimana hadis yang sering menjadi pembuka dalam kitab tersebut.
Menurutnya, niat yang paling rendah dalam beribadah adalah karena adanya rasa takut, misalnya takut pada neraka. Meskipun begitu, ia menganggap niat tersebut sebagai cara ikhlas yang paling rendah.
“Jangan sampai ibadah kita tidak ada sama sekali niatnya,” ujarnya.
Ustaz Sayyid juga menjelaskan bahwa ikhlas memiliki tingkatan yang menunjukkan kedalaman dan kualitas spiritual seseorang. Tingkatan tersebut meliputi:
- Ikhlas Awwalin (Ikhlas Permulaan): Ikhlas pada awalnya, tetapi masih rentan berubah karena godaan atau motivasi duniawi.
- Ikhlas Mustamirr (Ikhlas yang Berkesinambungan): Ikhlas yang konsisten dan berkesinambungan dalam setiap keadaan.
- Ikhlas Haqiqi (Ikhlas Sejati): Tingkat ikhlas tertinggi di mana seseorang beramal semata-mata karena Allah, tanpa motivasi duniawi sedikit pun.
- Ikhlas Sirri (Ikhlas yang Tersembunyi): Ikhlas yang tidak hanya terlihat dalam perbuatan lahiriah, tetapi juga tersembunyi dalam hati dan niat.
Lebih lanjut, KH. Abdur Rohman menyampaikan sebuah pesan penting terkait niat dan amal perbuatan. Beliau mengutip kalimat yang sangat mendalam:
“تَرْكُ الْعَمَلِ لِأَجْلِ النَّاسِ رِيَاءٌ وَالْعَمَلُ لِأَجْلِ النَّاسِ شِرْكٌ”
Artinya, “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya, dan beramal karena manusia adalah syirik.”
Pernyataan ini mendorong para hadirin untuk terus meningkatkan kualitas ibadah dan niat mereka, dari yang hanya didasari rasa takut menjadi ikhlas yang murni karena cinta dan keridaan Allah SWT.
Pertemuan ini diharapkan bisa menjadi pemicu bagi pengurus dan anggota NU untuk mencapai tingkatan ikhlas yang lebih tinggi dalam setiap amal perbuatannya.
