Konkret! Griya Moderasi Agama KUA Kaliwates Jember Didampingi Tim UIN KHAS Siapkan Langkah Praksis Eco-teologi

KUAKaliwates.com – Griya Moderasi Agama hasil kolaborasi Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) dan Kantor Urusan Agama (KUA) Kaliwates terus menyoroti permasalahan kolektif umat lintas agama. Menginjak usia satu tahun pembentukannya, fokus utama gerakan ini kini diarahkan pada pengembangan kesadaran moderasi yang bermuara pada penguatan kepedulian ekologi. Hal ini ditegaskan langsung oleh Kepala Pusat Moderasi Beragama UIN KHAS Jember, Dr. H. Shoni Rahmatullah Amrozi, M.Pd.I, dalam acara diskusi bersama di KUA Kaliwates Jember, 24/06.

“Kegiatan ini adalah tindak lanjut dari tahun kemarin. Kita ingin menyapa teman-temen Griya Moderasi Agama dan kembali mengajak untuk menguatkan moderasi beragama sebagai jalan pengembangan kesadaran eco-theologi,” tandasnya.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Koordinator Pendampingan Griya Moderasi, Dr. Moh Nor Afandi M.Pd.I., menekankan pentingnya komitmen keberlanjutan dalam merangkul kelompok lintas agama. Keterlibatan institusi pendidikan dipandang sebagai sebuah amanah untuk mewujudkan aksi nyata di lapangan. “Kelompok dampingan moderasi beragama perlu terus dirajut. Kita dari UIN KHAS juga merasa punya tanggung jawab bersama untuk menguatkan kesadaran moderasi lebih-lebih untuk menguatkan kepadulian bersama pada ekologi,” ungkapnya di hadapan para peserta diskusi.

Sinergi yang kuat ini mendapat apresiasi penuh dari Kepala KUA Kaliwates, M. Saiful Hadi, SH. M.Sy. Pihaknya menyambut baik pendampingan berkelanjutan dari perguruan tinggi terhadap seluruh program Griya Moderasi Beragama yang berdampak langsung pada masyarakat.

“Kami bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada UIN KHAS yang telah mendukung, dalam hal ini LPPM,” tuturnya.

Sebagai bentuk keseriusan merajut keberagaman, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN KHAS turut menggandeng tokoh dan penyuluh agama Kristen dalam acara tersebut untuk memperkaya perspektif teologis.

Diskusi kolaboratif ini dipandu secara bergantian oleh M. Saiful Hadi dan pakar sekaligus penyuluh agama Kristen, Yusuf Deswanto, S.S., M.Div. Dalam paparannya, Yusuf mengangkat isu dimensi ajaran moderasi beragama dan perkembangan kesadaran eco-teologi dalam perspektif Kristen. Ia mengajak para peserta mencari jalan keluar bersama dalam menghadapi degradasi lingkungan di Kabupaten Jember. Menurutnya, seluruh agama telah memiliki ajaran luhur tentang kepedulian alam, namun implementasi nyata untuk menangani krisis lingkungan masih sangat minim.

“Kami rasa, sudah waktunya kita bersama-sama peduli pada masalah-masalah sampah di Jember. Misalnya di pasca pagelaran JFC,” ucapnya menyoroti perlunya aksi bersih-bersih usai perhelatan akbar daerah.

Memperkaya sudut pandang diskusi, M. Saiful Hadi turut mengangkat realitas sosial dan tata ruang yang kian memprihatinkan di wilayah lokal. Ia menyoroti isu degradasi moralitas generasi muda sejalan dengan fenomena hilangnya bukit-bukit kecil atau gumuk akibat eksploitasi yang mengabaikan keseimbangan alam.

“Gumuk di Jember, tambah sedikit. Lahan pertanian pun semakin sempit. Ini harus kita cari solusinya. Perlu direkomendasikan regulasi untuk mengatasi masalah ini,” ujarnya memberikan dorongan kuat untuk segera merumuskan kebijakan perlindungan tata ruang yang mengikat.

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *